Home / Cerita Threesome / Cerita Sex: Enaknya Threesome Dengan Istri Teman

Cerita Sex: Enaknya Threesome Dengan Istri Teman

Agen Judi Online

Sebuah kegilaan baru saja aku alami. Tepatnya beberapa hari yang lali saat liburan kantor kunikmati bersama temanku Dito di rumah.Mengobrol sambil minum adalah salah satu kegiatanku waktu itu. Sampai akhirnya cerita seks yang menurutku gila namun penuh sensasi ini terjadi.

Cerita Sex Enaknya Threesome Dengan Istri Teman
Dito bekerja di kantor yang sama denganku. Hari Jumat keesokannya adalah hari libur untuk kantor kami jadi kami mendaptkan 3 hari libur di akhir minggu tersebut. Karena itulah kami tidak terburu-buru menghabiskan malam itu. Berbeda dengan istriku, Ririn; ia harus bekerja esok harinya. Dan karena termasuk orang yang tidak suka tidur larut malam, ia pergi tidur sekitar pukul 10:30. Ririn adalah salah satu orang yang paling lelap saat tertidur.

Beberapa kali aku pernah mencoba mengguncang-guncangkan bahunya untuk membangunkannya, namun selalu gagal. Ia terus tertidur. Setelah Ririn pergi tidur, Dito dan aku duduk di ruang tamu dan menonton DVD porno yang sengaja kami beli. Lagipula Ririn juga tidak pernah suka menonton film-film seperti itu.

Setelah beberapa adegan, Dito berkata,

“Wah, pasti enak yah kalo punya cewe untuk diajak ngesex! Udah lama banget nih, gue kagak begituan!”

Aku sedikit kaget mendengar komentarnya. Dito bukanlah pria yang buruk rupa. Dengan tinggi 175 cm dan berat sekitar 70 kg, aku malah menduga ia mempunyai banyak teman wanita.

“Emangnya elu lagi ga jalan sama siapa-siapa, To?” tanyaku.
“Kagak.Sejak Bunga putus sama gue 2 taun yang lalu, gue agak-agak malu untuk ajak cewe jalan,” jawabnya.

Kami mengobrol tentang Bunga yang ternyata tidak serius dengan Dito. Setelah beberapa botol bir dan beberapa adegan dari film porno yang kami tonton, Dito bangkit berdiri untuk pergi kencing.

Aku tetap duduk sambil menonton film itu untuk beberapa saat dan akhirnya baru menyadari bahwa Dito belum kembali setelah cukup lama pergi kencing. Aku berdiri dan menghampirinya untuk memeriksa apakah ia baik-baik saja. Saat aku berada pada jarak yang cukup dekat dengan WC, aku melihat pintu itu terbuka. Aku masuk ke WC dan mendapati Dito berdiri di pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku.

Ia terlompat melihat aku masuk.

“Wah, sorry banget nih,” katanya.
“Waktu gue masuk, pintu ini memang udah terbuka. Dan waktu gue mau keluar, gue liat dia terbaring seperti itu.” Aku berjalan mendekati tempat Dito berdiri dan melihat ke arah kamar tidurku.

Ririn terbaring menyamping sehingga punggungnya menghadap ke arah kami dengan kaki yang sedikit tertekuk. Ririn tidur dengan mengenakan daster panjang namun bagian bawahnya tersingkap sampai ke pinggul sehingga menampakkan bulatan pantat yang halus, mulus dan terlihat tidak mengenakan celana dalam.

Pundaknya sedikit tertarik ke belakang sehingga memperlihatkan kami sisi bukit dadanya dan tonjolan puting susunya dari balik daster yang sedikit tembus pandang. Ia terlihat sangat seksi terbaring seperti itu dengan remang-remang cahaya dari WC. Bibirnya sedikit terbuka dan rambutnya yang panjang terhampar di atas bantal.

Boleh dibilang posisi Ririn saat itu seperti sedang berpose untuk pemotretan majalah dewasa.

“Gila! Cakep banget!” kata Dito sambil menahan nafas.
“Gue mau disuruh apa aja untuk mendapatkan cewe seperti dia, Kris.” Pada awalnya aku sedikit kesal mendengar perkataan Dito.

Namun pada saat yang bersamaan, melihat Dito memandang istriku seperti itu tanpa sepengetahuan Ririn justru membuat diriku terangsang.

“Aduh, sorry nih, Kris. Gue rasa udah waktunya buat gue untuk pulang,” kata Dito berbalik badan untuk keluar.
“Eh, tunggu, To,” kataku.
“Ayo masuk ke sini sebentar aja. Tapi jalannya pelan-pelan, oke?”
“Ha?! Elu mau gue masuk ke kamar elu?”
“Kalo cuma lihat doang mah ga ada yang dirugikan, kan? Tapi kita engga boleh buat dia terbangun, oke?”

Bahkan aku sendiri tidak percaya apa yang baru saja aku katakan. Aku mengijinkan pria lain masuk ke kamar tidurku sehingga ia dapat melihat istriku yang dalam keadaan ‘setengah’ telanjang. Aku pun masih tidak yakin apa dan sejauh apa yang akan aku lakukan berikutnya.

Saat kami berjingkat memasuki kamarku, aku mendorong Dito untuk mendekat ke samping ranjang. Bahkan Dito sendiri terlihat tidak yakin. Pandangannya berpindah-pindah antara aku dan Ririn. Semakin mendekat ke ranjang, pandangannya lebih terarah ke Ririn. Ririn berbaring di pinggir ranjang di sisi tempat kami berdiri dan semakin kami mendekat, kedua bukit payudaranya semakin jelas terlihat.

Puting susunya dapat terlihat dari balik dasternya yang tipis. Walau bagian bawah dasternya sudah tersingkap namun kami masih belum dapat melihat bibir vaginanya karena tertutup oleh kakinya.

Aku hanya berdiri di sana dengan cengiran lebar memandangi Dito dan istriku bergantian. Dengan mulut ternganga, Dito juga hanya memandangi istriku dengan takjub dan kagum.

“Gila, Kris. Seksi banget sih! Gue ga percaya elu kasih gue liat bini elu dalam kondisi begini!”

Dengan hati-hati aku meraih tali daster Ririn dan menariknya turun melewati pundaknya turun ke lengan sehingga bagian atas dasternya tersingkap dan memperlihatkan lebih banyak lagi bagian payudaranya. Gerakanku terhenti saat kain bagian atas daster itu tertahan oleh puting Ririn.”Mau lihat lebih banyak?” aku berbisik.

“I-iyah!” Dito berbisik balik.

Dengan sangat lembut aku mencoba untuk menurunkan tali daster itu lagi namun puting susunya tetap menahan kain itu sehingga tidak dapat terbuka lebih jauh. Aku menyelipkan jari-jariku ke bawah daster tersebut lalu dengan hati-hati mengangkatnya sedikit melewati puting Ririn.

Dito menahan nafasnya tanpa bersuara. Sekarang payudara kirinya sudah terbuka. Putingnya yang sangat halus dan berwarna merah muda itu berdiri tegang karena mendapat rangsangan dari gesekan kain dasternya tadi.

Lalu aku meraih ke tali dasternya yang lain dan meloloskannya dari pundak kanan Ririn. Dengan lembut aku menarik kain daster itu melewati puting sebelah kanannya. Kini kami dapat melihat kedua payudara Ririn tanpa ditutupi benang sehelaipun. Aku membiarkan kedua tali dasternya menggelantung di lengan dekat sikunya karena aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau istriku terbangun.

Dito masih berdiri di sampingku dan dengan mulut yang masih ternganga ia menatapi payudara dan pantat Ririn yang kencang. Sesekali Dito mengusap-usap tonjolan di selakangannya walau ia berusaha agar aku tidak melihatnya. Penisku sendiri sudah membesar dan berusaha memberontak keluar dari jahitan celana jeans yang kupakai.

Aku terangsang bukan hanya karena melihat tubuh istriku namun juga karena apa yang sedang kuperbuat.

“Jadi, bagaimana menurut elu?” aku berbisik lagi.
“Gila, man! Gue ga percaya semua ini! Dia cantik banget! Gue sih cuma berharap…,” jawabnya sambil mengusap tonjolan penisnya sendiri.

Aku berpikir sejenak,

“Kalau sampai ia terbangun…, tapi lagipula aku memang akan mencobanya.”

Aku menarik Dito semakin mendekat ke ranjang lalu aku menunjuk ke payudara istriku.

“Ayo, pegang susunya. Tapi harus dengan lembut, oke? Gue nggak mau ambil resiko nih.” Mata Dito terbuka lebar sekali lalu mendekatkan dirinya ke tepi ranjang.

Ia membungkuk sedikit dan menjulurkan tangan kirinya untuk meraih bulatan payudara istriku. Tangannya sedikit bergetar dan tangan kanannya ditekankan di selangkangannya seakan digunakannya sebagai penopang.

Tapi aku tahu apa yang sebenarnya ia kerjakan. Jari-jari itu dijulurkan makin lama semakin mendekat sampai akhirnya ujung jarinya menyentuh kulit payudara Ririn tepat di bawah areola. Dengan hati-hati Dito meletakkan ibu jarinya di bagian bawah payudara Ririn sebelum akhirnya ia geser perlahan-lahan naik ke puting susu tersebut. Ririn tidak bergerak. Saat ibu jarinya mencapai bagian areola, Dito menggerakkan telunjuknya melingkari puting Ririn dengan lembut.

Aku kenal Ririn sejak jaman masih bersekolah. Kami berpacaran sejak saat itu dan akhirnya kami menikah. Dan dalam sepengetahuanku, tidak pernah ada pria lain yang pernah melihat tubuh Ririn sampai sejauh ini apalagi menyentuhnya.

Lalu Dito mulai meraba payudara itu dengan sangat lembut dari yang satu berpindah ke payudara yang lain. Ririn masih tak bergerak dalam tidurnya walaupun sepertinya terlihat nafas Ririn menjadi lebih cepat. Dito mulai menjadi lebih berani dan dengan menambahkan sedikit tenaga, ia meremas kedua buah dada Ririn.

Dito sudah tidak menutup-nutupi usahanya untuk mengusap-usap penisnya dan kelihatannya ia berniat untuk menyemprotkan spermanya dari balik celananya. Aku masih belum puas untuk membiarkan semua ini berakhir saat itu, jadi aku menyuruhnya mundur sejenak sementara aku melepaskan tali-tali daster itu dari lengan Ririn.

Aku menarik turun daster itu sejauh yang aku bisa tanpa harus menarik secara paksa kain daster. Aku berhasil membuka tubuh bagian atasnya sampai pada bagian bawah tulang rusuknya sebelah kiri. Lalu aku bergerak ke bagian pinggulnya. Dengan hati-hati aku menarik kain yang menutupi bagian bawah pantatnya lalu melepaskan kain itu dari kakinya yang menekuk.

Hal ini memperlihatkan seluruh pantatnya dan sebagian dari bibir vaginanya. Dito masih belum dapat melihatnya dari tempat ia berdiri saat ini. Aku mendengar ia sedang melakukan sesuatu di belakangku. Dan begitu berbalik badan, aku mendapatinya sedang memelorotkan celana jeansnya sebatas testisnya sehingga ia dapat leluasa mengocok penisnya. Aku kembali berbalik ke Ririn lalu meluruskan kaki kirinya.

Hal ini membuat bulu-bulu halus kemaluannya dapat terlihat bahkan sampai hampir ke bibir vaginanya. Saat melihat aku melakukan hal ini, Dito melongokkan badannya melewati badanku untuk melihat tubuh Ririn lebih jelas sementara ia bermasturbasi.

Aku menarik kaki kiri Ririn dengan lembut sehingga membuat tubuhnya berbaring terlentang menghadap ke atas dan memperlihatkan seluruh tubuhnya secara frontal.

“Wahhhh, gila, man!” Dito berbisik dan mulai mengocok penisnya lebih cepat.
“Jangan cepet-cepet, brur,” aku memperingatkan dia.
“Elu mau pegang memeknya sebelum elu klimaks, kan?” Langsung Dito berhenti mengocok dan menatapku dengan pandangan seperti anak kecil yang dihadiahi sepeda baru.
“Mantap, man! Elu kasih gue…, ahhh, mantap, man!” Ia mengganti tangan kanan dengan tangan kirinya untuk memegang penisnya, tapi tidak mengocoknya.

Lalu dengan tangan kanannya, yang sedari tadi digunakan untuk mengocok penisnya, ia menyentuh bulu-bulu kemaluan Ririn dengan perlahan. Dito mulai membelai Ririn melalui bulu-bulu itu dengan jemarinya. Namun tidak sampai ke bibir vaginanya. Ririn masih terlelap namun nafasnya semakin bertambah cepat setelah Dito mengusap-usap kemaluannya.

Setelah itu dengan menggunakan jari tengah dan telunjuknya, Dito mengusap turun ke sepanjang bibir vagina Ririn lalu mengusap naik lagi sambil menaruh jari tengahnya di antara bibir kemaluan tersebut. Begitu ia menarik tangannya ke atas, jari tengahnya membuka bibir vagina itu dan wangi harum vagina Ririn mulai memenuhi kamar.

”Gilaaaaa, man!” desah Dito sambil menarik ke atas jari-jarinya yang sudah masuk sedikit ke dalam liang kewanitaan istriku.

Saat jari Dito menyentuh klitorisnya, tubuh Ririn seakan tersentak sedikit lalu ia mendesah dengan suara yang nyaris tak terdengar. Melihat hal ini Dito segera menarik tangannya.

Aku melihat bahwa istriku masih terlelap namun aku tidak yakin apakah perbuatan ini dapat membangunkannya atau tidak. Dito menatap aku dan aku menganggukkan kepalaku memberi isyarat bahwa ia dapat melanjutkan.

Lalu dengan menggunakan tangan kirinya, Dito mengocok penisnya sampai cairan pelumas keluar dari ujung penisnya. Dito menyapu cairan yang keluar cukup banyak membasahi kepala penisnya kemudian dengan tangan yang sama ia mulai mengusap-usap bibir kemaluan Ririn. Kadang ia membuka bibir vagina tersebut dengan jari tengahnya. Sesekali pinggul Ririn bergerak maju dan mundur sedikit dan ditambah dengan desahan lembut yang keluar dari mulutnya. Dito sudah mengocok penisnya lagi.

Lalu tiba-tiba sebuah ide timbul dalam otakku.

Dengan hati-hati aku menarik kaki kiri Ririn keluar dari ranjang sampai vaginanya berada tak jauh dari ujung ranjang namun masih cukup jauh bagi Dito untuk menyetubuhi istriku. Penis Dito tidak sepanjang itu dan lagipula aku tidak yakin apakah persetubuhan dapat membangunkannya.

Dan juga aku tidak yakin apakah aku ingin Dito menyetubuhi istriku karena hal ini masih baru buatku.

“To, ke sini deh,” aku berbisik sambil menarik lengannya.
“Berdiri di antara pahanya. Dari sini elu bisa lebih leluasa mengusap-usap memeknya sambil ngocok. Tapi jangan ngentotin dia, ya? Elu denger, engga?” Dito mengangguk dan segera pindah ke antara kedua paha Ririn.

Dito mengusap-usap vagina Ririn dengan jari-jari tangan kirinya dan mengocok penisnya dengan tangan kanan. Penis Dito hampir sejajar tingginya dengan vagina Ririn dan berjarak sekitar 10 cm sementara ia mengocok penisnya dengan penuh nafsu. Lalu Dito menggunakan ibu jarinya untuk mengusap-usap vagina Ririn sehingga ia dapat lebih mendekat lagi sampai pada akhirnya jarak antara penis dan vagina Ririn kurang dari 1½ cm.

Pinggul Ririn masih sedikit bergoyang-goyang sesekali dan pada satu saat, pinggul Santi bergerak ke bawah dan kepala penis Dito bersentuhan dengan bibir vagina Ririn. Penis Dito menggesek sepanjang bibir kemaluan istriku. Hal ini membuat Dito meledak dan berejakulasi. Spermanya muncrat ke mana-mana dan sebagian besar tersemprot ke bibir vagina Ririn.

Pada setiap semprotan, Dito melenguh dan beberapa kali dengan ‘tanpa disengaja” ia menorehkan kepala penisnya ke bagian atas dari bibir vagina istriku. Dito pasti sudah lama tidak berejakulasi karena sperma yang dikeluarkannya begitu banyak. Saat selesai klimaks, Dito mengurut penisnya untuk mengeluarkan lelehan sperma yang masih tersisa di saluran penisnya. Ia membiarkan lelehan itu jatuh ke bibir vagina Ririn yang sedikit terbuka. Dan saat mengalir ke bawah di sepanjang bibir vagina tersebut, terlihat lelehan itu masuk lalu menghilang begitu saja seperti tertelan bumi.

Dito memandangku dan berbisik,

“Gilaaaa, man! Gue ga tau cara berterima kasih sama elu, Kris!”

Aku tersenyum kepadanya dan memapahnya mundur secara ia telah selesai dengan urusannya.Sekarang saatnya giliranku.

Aku berdiri di antara kakinya lalu melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku.

“Dito, elu keluar sebentar deh. Gue mau coba tarik badannya lebih ke pinggir supaya gue bisa ngentotin dia,” aku berbisik dengan lebih kencang.

Dito menurut dan berjalan menuju pintu kamar kalau-kalau istriku terbangun. Aku menarik tubuhnya sampai pantat sebelah kirinya menggantung di pinggir ranjang. Selama itu Ririn tidak bangun sama sekali namun nafasnya masih berat dan dari vaginanya keluar cairan pelumas dari tubuhnya bercampur dengan sperma Dito.

Lalu aku menyuruh Dito masuk ke kamar lagi untuk membantuku dengan menyangga kaki dan pantat kiri Ririn sehingga tanganku dapat kugunakan dengan bebas. Dito meraih kaki kiri Ririn dengan tangan kirinya lalu dengan tangan kanannya ia menopang pantat Ririn. Aku melihat ia meremas pantat istriku saat ia mencoba menopangnya. Dan aku mulai menggesek-gesekkan penisku naik dan turun ke bibir vaginanya yang sudah basah. Vaginanya sangat amat basah. Cairan vagina Ririn yang bercampur dengan sperma Dito, membuat liang kewanitaan Ririn menjadi sangaaaat licin. Bahkan aku sudah hampir klimaks jadi aku dengan perlahan memasukkan batang penisku ke dalam liang kemaluan Ririn yang panas.

Walau sudah sangat basah namun liang vagina Ririn masih sangat sempit secara Dito tidak sempat melakukan penetrasi. Akan tetapi penisku dapat menembus dengan mudah. Segera aku memompa vagina Ririn dan setelah sekitar 10 pompaan maju mundur, Ririn mengalami orgasme dalam tidurnya!!! Hal ini sudah cukup membuatku melambung mencapai klimaks. Aku mulai menyemprotkan cairanku masuk ke dalam vaginanya dan tiap muncratan seakan tersembur langsung dari buah zakarku. Ririn mengerang-erang dalam tiap desahannya dan begitu pula aku.

Dito berkata,

“Gilaaaa, man!” namun kali ini ia tidak berbisik. Hal ini tidak jadi masalah karena Ririn tak bangun sedikitpun selama kami menggarap tubuhnya.

Ketika aku menarik penisku, Dito menaruh pantat dan kaki Ririn kembali ke ranjang. Lalu ia menunduk menjilati dan mengecup puting susu Ririn dan menyedotnya saat ia kembali menegakkan badannya. Aku sudah terlalu lemas untuk berkomentar dan akhirnya aku hanya menarik tangannya untuk keluar kamar. Saat aku berjalan mengantarnya ke luar rumah, Dito tak habis-habisnya berterima kasih kepadaku. Aku melambaikan tangan lalu mengunci pintu. Aku masuk ke kamar, berbaring di atas ranjang di samping Ririn dan langsung terlelap begitu saja.

Keesokan harinya, Ririn membangunkanku dengan mencium telingaku.

“Elu ga bakalan percaya apa yang gue mimpiin kemarin malam!” katanya membuka pembicaraan.
“Gue bermimpi ada banyak tangan yang meraba-raba badan gue. Ngomong-ngomong, kemarin malam kita ngapa-ngapain ga, yah?” Aku teringat kalau aku tidak sempat membersihkan sperma yang tercecer di tubuhnya dan di ranjang sebelum pergi tidur kemarin.
“Eeehhh…, iya lah. Memangnya elu engga ingat apa-apa?”
“Yaah…, gue ga tau yah. Semuanya kaya dalam mimpi gitu. Mungkin gue setengah tidur kali. Tapi yang pasti asyik deh. Bagaimana? Apa elu berniat untuk melakukannya sekali lagi sekarang selagi gue ga ketiduran?”

Pikiranku melayang ke kejadian kemarin malam…,

“Hmmmm, bagaimana yah? Menurut elu bagaimana?” aku tersenyum.

Pada minggu berikutnya di kantor aku terus memikirkan malam itu dimana Dito hampir menyetubuhi istriku, Ririn. Aku dan Dito tidak pernah menyinggung hal itu walau beberapa kali kami saling melepas senyum. Dito melemparkan senyum penuh rasa terima kasih kepadaku.

Harus kuakui, aku sudah menjadi terobsesi dengan ide melihat istriku disetubuhi pria lain. Namun masih ada perasasan yang mengganjal. Melihat Dito bermasturbasi di depan Ririn malam itu benar-benar tidak menjadi masalah bagiku. Tetapi dapatkah aku menerima melihat pria lain benar-benar berhubungan seks dengan istriku? Menjelang akhir minggu aku dapat melihat pandangan penuh harap dari wajah Dito.

Aku tahu apa yang ia pikirkan:

“Apakah Kris bakal ngundang gue datang ke rumahnya lagi?”,
“Apakah gue bisa dapat kesempatan dengan istrinya?”

Hari Jumat akhirnya tiba dan sebelum jam pulang kantor aku mengajak Dito untuk berkunjung lagi ke rumahku. Kegembiraan yang besar meluap dari diri Dito.

“Yeahhhhh! MANTAP!!! Gue bakal bawa bir dan beberapa film untuk kita tonton!” katanya dengan penuh semangat.
“Oke. Datang jam 9-an deh,” jawabku.

Aku tahu pada saat itu Ririn pasti sudah mulai mengantuk dan keberadaan Dito akan mendorongnya untuk pergi tidur lebih cepat secara ia tidak begitu suka bergaul dengan Dito. Aku merasa geli sesaat membayangkan hal itu. Jika saja Ririn tahu apa maksud kedatangan Dito, ia pasti tidak akan tidur sepanjang malam, setidaknya sampai Dito pulang.

Lalu aku melakukan sesuatu yang mengangetkan diriku sendiri.

“Hey, Jo! Apa yang elu kerjakan malam ini?” aku bertanya.

Josua adalah pribumi berkulit gelap. Tinggi badannya mencapai 190 cm dengan berat badan bisa mencapai 90 kg. Josua bukan seorang yang gemuk namun ia memiliki tubuh yang besar dan kekar.

“Ah, ga banyak. Kenapa? Elu ada acara apa?” ia balik bertanya.
“Sekitar jam 9 malam nanti Dito bakal datang ke rumah gue untuk main-main. Minum, ngobrol, apa aja deh.
Kalo engga salah denger dia bilang dia bakal bawa film-film BF. Gimana, berminat?”
“Boleh, tapi mungkin gue bakal telat. Gue musti kerjain sesuatu untuk bokap, tapi ga lama deh,” jawabnya. “Engga masalah. Oke sampai ketemu nanti,” aku berkata sambil berpikir mungkin memang ada baiknya Josua datang setelah Ririn tertidur.

Aku menoleh dan melihat wajah Dito yang terkejut, namun terkejut dalam nuansa yang menggembirakan. Aku tersenyum dan sambil mengedipkan mataku aku berjalan melewatinya,

“Sampai nanti, To!” Malam itu saat makan malam, aku terus memikirkan rencana malam nanti.

Aku membeli sebotol anggur dan meminumnya bersama Ririn dengan harapan ia dapat tertidur pulas malam itu. Seperti yang aku harapkan, tidak memerlukan waktu yang lama sampai Ririn mulai cekikikan karena pengaruh anggur yang ia minum. Suatu keuntungan yang tidak terduga anggur tersebut juga memberikan efek yang menstimulasi tubuhnya.

Dari bawah meja, Ririn mulai menggesek-gesekkan kakinya yang terbalut stoking ke pahaku. Kemudian setelah beberapa gelas anggur lagi, sambil menonton TV Ririn duduk menghadapku dengan satu kaki diletakkan di lantai dan kaki lainnya ditekuk sehingga ia mendudukinya. Hal ini menyebabkan roknya yang pendek tertarik ke atas sehingga memperlihatkan pahanya dan ujung stokingnya.

Ia membuka kakinya sedikit untuk memperlihatkan kepadaku celana dalamnya saat bel pintu rumahku berbunyi.

“Aaaah!” ia memprotes.

Aku bangkit berdiri untuk membukakan pintu.

“Siapa yah yang datang malam-malam begini?” aku bertanya seakan tidak tahu bahwa yang datang adalah Dito.

Setelah aku membuka pintu, Dito masuk dengan kantong plastik di tangannya. Ia berdiri di samping pintu setelah aku menutup pintu itu. Dito memandang Ririn dan mulai berbasa-basi dengannya. Saat kembali ke tempat dudukku, aku menyadari bahwa Ririn masih dalam posisi yang sama. Ririn duduk menghadap kami sambil memain-mainkan rambutnya.

Ia benar-benar tidak sadar sedang memperlihatkan terlalu banyak bagian tubuhnya kepada Dito saat ia duduk di sana dengan wajah yang terlihat kecewa. Dito hanya berdiri mematung di sana sementara mereka saling berpandangan. Ririn memandangnya dengan pandangan kosong sedangkan Dito memandangnya dengan pandangan tidak percaya.

Tiba-tiba Ririn tersadar akan posisi duduknya dan cepat-cepat berbalik lalu menurunkan roknya.

“Ayo duduk, To. Sini…, gue taruh di kulkas dulu,” kataku sambil mengambil kantong plastik yang berisi bir lalu berjalan ke dapur.

Saat sedang memasukkan bir-bir itu ke dalam kulkas, terdengar olehku Dito berkata kepada Ririn bahwa ia berharap kedatangannya tidak mengganggu acara aku dan Ririn.

“Oh enggak,… nggak apa-apa kok,” terdengar jawaban Ririn.

Aku tahu benar untuk bersikap sopan, Ririn membohongi Dito.

“Kita cuma duduk-duduk sambil nonton TV doang kok,… dan sudah berniat untuk tidur.”

Aku tahu Ririn mencoba untuk memberi isyarat kepada Dito bahwa kedatangannya sudah mengganggu kami. Ririn memang tidak tahu apa-apa tentang rencana kami malam ini.

“Apa rencana elu malam ini, To?” sambil memberi bir, aku bertanya kepada Dito setelah kembali dari dapur. “Ah, nggak banyak lah. Cuma mampir untuk minum-minum sedikit.”
“Boleh-boleh aja. Gimana menurut elu, San?” aku bertanya sambil memandangnya.

Wajah Ririn menunjukkan kalau ia sudah pasrah bahwa Dito akan tetap tinggal sampai larut malam.

“Ya sudah, kalau begitu gue permisi dulu deh. Gue tidur duluan yah,” jawabnya dan bangkit dari sofa. “Bagus!” pikirku, semua sesuai dengan rencana.
“Oke, San. Gue nyusul nanti,” kataku sambil tersenyum kepada Dito.

Dengan mulutnya, Dito melafalkan tanpa suara, “Gue juga!” setelah Ririn berjalan melewatinya menuju kamar tidur. Setelah Ririn masuk ke kamar, Dito dan aku duduk menatap TV dengan pandangan kosong. Tidak satupun dari kami yang membuka suara. Suasana saat itu menjadi tegang penuh harap apa yang akan terjadi nanti.

Sekitar pukul 10 malam, aku mendengar Josua memarkirkan mobilnya di depan rumah. Aku berdiri dan membuka pintu sebelum ia membunyikan bel. Sebenarnya aku tidak berpikir suara bel rumah kami akan membangunkan Ririn, namun aku tidak mau ambil resiko. Pada awalnya kami bertiga mengobrol sana-sini setelah Dito memutar film yang dibawanya. Josua masih tidak tahu menahu tentang rahasia kecil kami. Aku sendiri masih belum yakin benar untuk mengikutsertakan Josua ke dalam rencana malam ini.

Setelah 15-20 menit, aku melihat Dito mulai gelisah. Berulang kali Dito terlihat beringsut dari tempat duduknya dan memandangku seakan berharap mendapat kode persetujuan untuk memulai acara malam itu.

“Gue permisi sebentar yah,” kataku sambil berdiri menuju kamar dan memberi isyarat kepada Dito untuk tetap duduk di tempatnya. Aku mau memastikan semuanya sudah pada tempatnya sebelum acara dimulai.

Dengan hati-hati aku berjalan masuk ke kamar.

Ririn tidur terlentang di ranjang dengan memakai daster imut yang semi transparan. Aku rasa anggur yang diminumnya tadi sudah bereaksi dalam tubuhnya secara Ririn tidur dengan kaki yang agak mengangkang dan kedua lengannya tergeletak di atas kepalanya. Ririn terlihat sangat cantik terbaring di sana dengan mulut yang sedikit terbuka (seperti biasanya) dan rambut yang tergerai di atas bantal. Buah dadanya sudah dapat terlihat dari balik kain dasternya yang tipis, menjulang seperti dua gunung kembar.

Nampaknya semua sudah siap tanpa aku harus berbuat apa-apa. Aku bergerak menuju pintu WC dengan perlahan lalu membukanya sedikit sehingga kamar itu sedikit lebih terang oleh cahaya lampu dari WC.

Lalu aku keluar bergabung dengan Dito dan Josua yang masih menonton film porno yang sedang diputar.

“Jo, elu mau bir lagi?” tanyaku berharap supaya ia segera pergi kencing.
“Boleh, thanks!” jawabnya.

Dito mengikutiku berjalan ke dapur dan segera menghamburkan pertanyaannya,

“Elu mau gimana kerjainnya?”
“Ya, gue rasa kita musti tunggu Josua pergi ke WC dulu untuk kencing. Trus, barulah kita berdua masuk ke kamar dan melihat apa yang bakal dia perbuat.”

Dito tersenyum dan kembali ke ruang tamu. Kami masih menonton beberapa menit setelah itu dan mengomentari adegan-adegan di film tersebut.

Tak lama setelah itu Josua berkata,

“Eh, Kris,… WC elu dimana?”
“Tuh di sana,” kataku sambil menunjuk ke arah WC.

Aku berusaha agar suaraku tidak terdengar terlalu antusias. Josua berjalan menuju WC. Setelah aku mendengar pintu WC dikunci, aku dan Dito bergegas menuju kamar. Setelah berada di dalam kamar, pandangan Dito melekat ke tubuh Ririn yang terbaring di atas ranjang. Josua tidak menutup pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Mungkin ia tidak menduga akan ada orang lain di sana.
Saat ia selesai, aku dapat mendengar ia menarik resletingnya dan bersiap keluar WC. Tiba-tiba aku mendengar Josua berhenti. Pasti ia telah melihat Ririn.

Ia seakan berdiri berjam-jam di sana sambil memandang istriku terbaring di ranjang dengan payudaranya yang terlihat jelas dari balik daster transparan yang dipakainya, naik turun mengikuti irama nafasnya.

“Bangsaaattt!” aku mendengar Josua berbisik.

Aku tidak dapat menahan geli dan tergelak. Josua mendengar suaraku dan melongokkan kepala masuk ke kamar dan mendapati kami sedang berdiri di sana. Segera aku menempelkan telunjuk ke bibirku dan menyuruhnya untuk tidak bersuara.

Aku mengajaknya masuk.

“Itu bini elo, Kris?” ia berbisik lagi.

Aku mengangguk lalu menuntunnya menuju sisi ranjang. Dito mengikut dari belakang dan berdiri di sebelah kiriku saat kami bertiga memandangi tubuh istriku dari jarak dekat.

“Gimana menurut elu?” tanyaku kepada Josua sambil tersenyum.

Ia menatap Ririn beberapa detik lagi lalu menoleh ke aku dan menatapku sambil menduga-duga ada apa di balik semua ini.

“Cantik banget, Kris!” ia menjawab sambil setengah tersenyum.

Perlahan-lahan aku meraih kain selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya lalu menarik kain itu sehingga memperlihatkan bagian perut Ririn. Aku terus menarik selimut itu sampai ke bagian antara pusar dan bulu-bulu kemaluannya.

Kini kami dapat melihat ujung daster yang dipakainya. Dengan hati-hati aku meraihnya dan mengangkat daster itu melewati tubuh Ririn yang putih mulus, melewati payudaranya yang ranum. Puting susunya yang kemerahan mulai mengeras karena angin dingin tertiup yang diakibatkan oleh pergerakan tanganku dan dasternya. Aku bergeser ke sebelah kiri untuk memberi ruang bagi Josua untuk berdiri tepat di depan payudara Ririn.

Sedangkan Dito bergerak ke sebelah kanan Josua berdiri tepat di depan wajah Ririn. Tanpa membuang waktu, Dito membuka celananya dan mulai mengocok penisnya sementara aku menuntun tangan Josua untuk meraba buah dada istriku dengan lembut.

Melihat perbedaan kontras antara tangannya yang besar dan hitam dengan kulit Ririn yang putih saat Josua meraba-raba payudara Ririn membuatku sangat terangsang! Tangannya sangat besar, hampir-hampir menutupi seluruh payudara Ririn yang berukuran sedang. Dengan lembut Josua menjepit puting susu Ririn dengan ibu jari dan telunjuknya sehingga terdengar desahan lembut keluar dari mulut Ririn.

Sementara itu, Dito sudah melepaskan celananya dan dengan mantap mengocok penisnya yang diarahkan tepat ke wajah Ririn yang hanya terpaut beberapa senti dari mulutnya yang sedikit terbuka. Dito menoleh ke aku saat ia meremas penisnya yang mengeluarkan cairan pelumas. Cairan itu dibiarkannya meleleh dari kepala penisnya dan menetes tepat di bibir Ririn. Pada awalnya Ririn tidak bergerak sama sekali sementara cairan itu menggenangi bibir bawahnya. Namun sensasi yang dibuat cairan itu pada bibirnya membuat Ririn menyapu cairan itu dengan lidahnya dan menelannya.

Melihat hal ini, Josua ikut melepaskan celananya. Setelah melepaskan celana jeans dan celana dalamnya, aku melihat penis yang paling gelap dan terbesar yang pernah aku lihat. Mungkin setidaknya panjangnya lebih dari 25 cm dan tebalnya lebih dari 6 cm. Membayangkan penis sebesar itu menerobos masuk ke dalam vagina Ririn yang basah membuat diriku bersemangat namun ada perasaan khawatir juga.

Aku sadar kalau sampai Josua memasukkan penisnya ke dalam vagina istriku, pasti penis Josua akan memaksa mulut vaginanya meregang sampai melebihi batas normal. Dan tidak ada keraguan dalam diriku bahwa hal ini pasti akan membangunkan Ririn walau seberapa lelapnya ia tertidur saat itu.

Josua memandangku sejenak sebelum ia menunduk dan mengulum puting susu sebelah kanan Ririn sambil mengocok penisnya. Lalu ia membungkukkan badannya sehingga pinggangnya maju ke depan dan mulai menggesek-gesekkan penisnya ke payudara sebelah kiri. Setelah mengocok penisnya beberapa saat, lendir pelumas mulai keluar dari ujung penisnya. Josua mengolesi cairan itu ke seluruh bulatan payudara dan puting susu Ririn dengan cara menggesek-gesekkan kepala penis itu ke payudara kirinya.

Setelah menyuruh Dito bergeser sedikit, aku menarik turun kain selimut sampai melewati ujung kakinya. Kini kami dapat melihat bulu-bulu halus kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalam semi transparan itu. Dito menjamah kaki Ririn lalu mengelus-elusnya dari bawah bergerak ke atas semakin mendekat ke selangkangan Ririn sambil terus mengocok penisnya.

Hal ini merebut perhatian Josua. Ia kini menonton aksi Dito sambil terus mengolesi payudara Ririn dengan cairan pelumas yang terus keluar dari penisnya. Rabaan Dito akhirnya mencapai bagian atas paha Ririn. Ia membelai jari-jarinya ke bibir vagina istriku yang masih dilapisi kain celana dalamnya.

Setelah Dito membelai naik dan turun ke sepanjang bibir vaginanya, pinggul Ririn mulai bergoyang maju mundur walau hanya sedikit. Dan itu merupakan pergerakan Ririn yang pertama sejak semua ini dimulai (selain gerakan menjilat bibirnya tadi). Aku semakin bersemangat. Dengan lembut aku mengangkat tubuh Ririn sehingga aku dapat melepaskan celana dalamnya, pertama ke sebelah kiri lalu ke sebelah kanan. Setelah dapat menarik celana dalamnya sampai ke setengah pahanya, segera aku menarik celana itu sampai lepas dari kakinya.

Ririn kini telanjang bulat di hadapan dua pria yang sudah dikuasai nafsu birahi. Melihat istriku yang cantik terbaring tanpa mengenakan busana di hadapan Dito dan Josua sementara mereka meraba, menggesek dan menjelajahi setiap jenjang tubuh istriku, membuatku hampir meledak. Dito menggeser kaki kiri Ririn sehingga keluar dari sisi ranjang lalu menyelinap ke antara pahanya dan dengan jari-jarinya mulai menjelajahi vagina Ririn yang rapat. Awalnya masih dengan hati-hati, dengan menggunakan ibu jarinya, Dito mengusap-usap bibir vagina istriku dengan wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari liang kewanitaannya.

Kemudian Dito memegang klitoris Ririn dengan ibu jari dan telunjuknya lalu memilinnya dengan lembut. Hal ini membuat Ririn mendesah dan menggeliat-geliat sehingga membawa kakinya ke pundak Dito. Josua sambil menggesek-gesekkan batang penisnya ke kedua payudara Ririn juga meremas-remas payudara itu, menonton aksi Dito di antara paha Ririn.

Ketika perhatianku kembali kepada Dito, ia sudah menggantikan jari-jarinya dengan lidahnya! Dengan lembut Dito meletakkan salah satu jarinya ke liang kewanitaannya. Ia menahannya di sana beberapa saat sampai cairan vagina Ririn membasahi jari itu. Baru setelah itu ia menusukkan jari itu dengan perlahan masuk ke dalam vagina istriku. Ririn tersengal dan kedua kakinya dikaitkan di sekeliling kepala Dito. Tanpa putus semangat, Dito meneruskan serangannya dengan menggunakan lidah dan jarinya pada vagina istriku.

Tidak ada pria lain mana pun yang pernah melakukan hal ini terhadap Ririn selain dari diriku. Berdiri di antara Dito dan Josua, aku langsung melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku sementara mereka menggarap istriku.

Tiba-tiba Josua berpindah posisi dan dengan perlahan menarik bahu Dito. Dito memandang wajah Josua sejenak lalu pandangannya turun ke penis besarnya yang terarah tepat langsung ke mulut bibir kewanitaan Ririn. Dito mundur mengijinkan Josua mengambil tempatnya yang langsung mengolesi kepala penisnya ke sepanjang bibir vagina istriku. Aku dapat melihat cairan pelumas yang keluar dari penisnya membasahi vagina dan bulu-bulu kemaluannya.

Aku terpekur dan tidak bisa bergerak sama sekali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu bahwa Josua hendak menyetubuhi istriku dengan penis raksasanya, namun bukan hal itu yang meresahkan aku. Jauh dalam lubuk hatiku sebenarnya inilah yang aku inginkan dan yang sudah aku rencanakan. Akan tetapi aku tahu pasti bahwa Ririn akan terbangun begitu penis itu memasuki tubuhnya. Terlebih lagi aku baru menyadari bahwa diafragma (alat KB) Ririn tergeletak di atas meja.

Biasanya, ia memakai diafragmanya ketika ia tahu kami berniat untuk melakukan ‘sesuatu’, bahkan jika ia pergi tidur sebelum aku tidur. Namun malam itu, aku rasa ia sudah mabuk sehingga lupa memakainya. Gambaran adegan pria berkulit gelap ini menyemprotkan air maninya ke dalam liang vagina istriku yang tidak dilindungi alat KB, memicu sesuatu dalam diriku walau sebenarnya aku INGIN melihat Josua menumpahkan spermanya ke dalam vagina Ririn.

Aku sudah tidak dapat mengontrol keinginanku untuk melihat hal ini. Boleh dibilang aku memang sudah kehilangan kontrol atas situasi ini. Setelah membalur kepala penisnya dengan cairan yang keluar dari vagina Ririn, Josua menaruh kepala penis itu di depan mulut bibir vagina istriku lalu… menekannya masuk.

Dengan perlahan kepala penis itu mulai menghilang dari balik bibir vagina itu. Bibir vagina istriku meregang dengan ketat sehingga mencegah kepala penis itu masuk lebih dalam. Masih dalam keadaan terlelap, Ririn membuka mulutnya saat ia tersengal begitu merasakan sedikit rasa perih pada selangkangannya.

Aku berpikir: Jika hanya kepala penisnya yang baru masuk saja sudah membuat istriku kesakitan, apa jadinya saat Josua mencoba untuk menghujamkan seluruh batang penis itu ke dalam tubuhnya? Tapi untunglah Josua bersikap lembut dalam serangan awal pada vagina Ririn.

Dengan selembut mungkin dan dalam kondisinya yang sudah sangat terangsang, Josua menggoyangkan pantatnya dalam gerakan maju mundur yang pendek-pendek sehingga membuat bibir vagina istriku lebih meregang sedikit demi sedikit seiring dengan semakin mendalamnya tusukan penis itu.

Dito kembali pindah ke depan kepala Ririn. Ia bermain-main dengan payudaranya sedang tangannya yang lain mengocok penisnya di atas wajah Ririn. Sesekali Dito membungkuk dan dengan lembut mencium bibir istriku yang sedikit terbuka itu, menjulurkan lidahnya sedikit masuk ke dalam mulutnya sementara terus meremas-remas payudaranya sambil mengocok penisnya.

Saat lidah Dito menyentuh lidahnya, dengan gerak refleks Ririn menutup bibirnya sedikit sehingga bibirnya membungkus lidah Dito. Dengan segera Dito menarik wajahnya ke belakang lalu menyodorkan kepala penisnya masuk sedikit ke dalam bibir Ririn yang agak terbuka. Seperti sedang bermimpi erotis, Ririn mulai mengecup ujung kepala penis Dito. Aku mendengar Dito mengerang saat aku mendengar suara menyedot keluar dari bibir Ririn

Perhatianku kembali kepada usaha penerobosan Josua terhadap tubuh istriku. Saat ini sudah sekitar 5 cm dari penisnya masuk ke dalam vagina Ririn dan bagian yang paling tebal dari penisnya hampir masuk ke dalamnya.

Tiba-tiba, seakan pembatas yang menghalangi penis itu masuk lebih dalam lenyap dalam sekejap, bagian penis yang paling tebal itu langsung masuk ke liang kewanitaan Ririn. Josua mulai menggenjot panggulnya dengan serius. Ia baru saja memasukkan 2/3 dari penisnya saat tiba-tiba…… Ririn TERBANGUN!

Mula-mula kedua mata istriku melotot lalu ia tersengal dan mengeluarkan penis Dito dari mulutnya sementara ia merasakan vaginanya meregang sampai batas maksimal. Kami bertiga diam membeku saat orientasi Ririn yang baru terbangun sedikit demi sedikit terkumpul dan pada akhirnya Ririn tersadar sepenuhnya akan apa yang sedang terjadi.

Pandangannya berpindah dari penis Dito yang menggantung di depan bibirnya lalu ke Josua yang penisnya sudah masuk ke dalam vaginanya. Tiba-tiba, yang benar-benar membuatku terkejut, Ririn melingkarkan kedua kakinya ke pantat Josua lalu menekankan tubuh Josua agar penisnya terbenam semakin dalam pada vaginanya. Ririn mengerang saat penis itu masuk 4 cm lebih dalam.

Sudah sebagian besar dari batang penis itu masuk ke dalam tubuhnya dan dalam tiap hentakan, penis itu menerobos semakin dalam. Dito menaruh kepala penisnya di bibir Ririn dan sekali lagi Ririn mulai menghisapi kepala penis itu. Namun konsentrasinya jatuh pada penis Josua yang meregang bibir vaginanya sampai batas yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setiap kali Ririn hendak menghisap kepala penis Dito, Josua menancapkan penisnya lebih dalam yang membuatnya terhenti sejenak dengan desahan yang keluar dari mulutnya. Aku mulai mengocok penisku dengan lebih cepat ketika aku melihat Josua menghujamkan seluruh batang penisnya ke dalam Ririn. Bibir vaginanya ikut tertarik ke dalam seiring dengan masuknya penis itu. Dan saat Josua menarik penisnya keluar, cairan cinta Ririn terlihat membasahi batang penis itu dan bagian dalam vaginanya terlihat ikut tertarik keluar seperti saat kita menarik keluar jari-jari kita dari dalam sarung tangan.

Dalam waktu singkat Ririn berorgasme dengan KUAT! Penis Dito terlepas bebas dari mulutnya saat ia melenguh dengan kuat,

“OOOOHHHHHHhhhh…..!” Seluruh tubuhnya mengejang sementara gelombang demi gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhnya dan tiap kali teriakannya semakin kencang secara orgasmenya berlanjut dan semakin menguat.

Getararan-getaran dalam vagina istriku yang membungkus rapat penisnya akhirnya membuat Josua mencapai klimaksnya. Suara erangannya terdengar keluar dari dalam mulut Josua sementara ia menghujamkan penisnya dengan keras sekali lagi lalu memuntahkan cairan sperma jauh di dalam vagina Ririn. Erangan dan desahan mereka bercampur seiring dengan klimaks mereka yang akhirnya mereda juga. Cairan sperma yang terlihat seperti gumpalan besar meleleh saat Josua menarik penisnya dari dalam vagina istriku.

Dengan Ririn masih tergeletak lemas di atas ranjang, Dito segera melompat ke antara kaki Ririn. Ia mengoles-oleskan penisnya ke vagina istriku yang basah oleh sperma Josua dan cairannya sendiri. Lalu dengan mudah Dito memasukkan penisnya ke dalam vagina Ririn yang sudah meregang melebihi batas itu. Setelah beberapa genjotan, Dito menarik penisnya dan mengarahkan ke lubang anus istriku. Bahkan aku pun belum pernah memasukkan penisku lewat pintu belakang. Aku menduga-duga apakah istriku akan menghentikan perbuatan Dito.

Ternyata Ririn tidak memberikan perlawanan sedikitpun, namun demikian saat penis Dito masuk setengahnya ke dalam liang duburnya, Ririn meringis kesakitan. Tak lama setelah itu, otot-otot duburnya mulai rileks dan Ririn mulai menggenjot pantatnya sehingga penis Dito masuk sepenuhnya ke dalam anusnya. Josua berpindah ke dekat wajah Ririn. Ia memegang penisnya yang penuh dengan cairan sperma bercampur cairan cinta dari vaginanya di atas mulutnya.

Dengan lembut Ririn membersihkan cairan itu dengan mulutnya dan sesekali memasukkan penis yang sudah melemas itu sejauh yang ia bisa ke dalam mulutnya. Walau sudah melembek, penis Josua tak kurang dari 18 cm panjangnya dan Ririn mampu menelan sampai sekitar 15 cm sementara Dito memompa anusnya yang masih perawan. Suara erangan Dito semakin membesar saat aku mengangkangi dada istriku dan menekan kedua payudaranya ke penisku yang sudah berdenyut-denyut. Dan aku mulai menggoyang-goyangkan pinggangku.

Ririn mengeluarkan penis Josua dari mulutnya dan mulai menjilati kepala penis itu sambil memain-mainkan penis dan buah zakarnya yang licin. Baru saja aku hendak memuntahkan spermaku ke atas dada dan wajah Ririn, aku mendengar Dito mengerang untuk yang terakhir kalinya saat ia mengosongkan muatannya ke dalam pantat istriku. Hal ini membuatku mencapai klimaks dan menyemburkan cairanku ke dada Ririn. Secepat kilat aku meyodorkan penisku masuk ke dalam mulut istriku dan ia mulai menyedot seluruh semburan sperma yang masih tersisa.

Ririn terus mengulum penisku yang melembek sementara aku terkulai lemas. Aku menoleh ke belakang melihat Dito menarik penisnya dari dalam anus istriku dengan suara yang basah, “Thllrrrpp!” Dito yang pertama kali mengeluarkan suara, “Gilaaaaa, man! Enak beneerrrr!” Aku hanya dapat menghela nafas begitu aku terkulai di samping Ririn. Ririn tersenyum kepadaku dengan wajah nakal dan imutnya. Sambil masih bermain-main dengan penis Josua yang besar itu,

Ririn berkata dengan pelan,

“Elu bener-bener penuh kejutan, yah!”
“Bukan cuma gue, tuh,” jawabku,
“Kelihatannya elu juga penuh kejutan!”

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close Button
Situs Togel Terpercaya